Asal Usul Hanoman (Kera Putih) Menurut Kitab Sansekerta

Ahsaniku – Siapa yang tidak kenal dengan tokoh wayang yang satu ini, ya Hanoman si ketek putih merupakan salah satu tokoh legendarid dari cerita wayang yang dikenal dari zaman kerajaan Hindu budha hingga zaman sekarang, kesaktian dan kekuatannya dalam menghadapi musuh menjadi inspirasi bagi kaum pandawa dalam menghadapi musuh-musuhnya, bahkan sangking populernya cerita wayang Hanoman, banyak produser film yang membuat film kolosal mengenai asal usul hanoman.

Secara umum ada banyak kisah menarik di balik Asal Usul Hanoman yang digambarkan sebagai kera putih, bahkan cerita mengenai asal usul hanoman ini diceritakan dari generasi ke generasi, meskipun sempat mengalami pergesaran makna, namun secara kesimpulan hampir semua cerita asal usul hanoman hampir sama, nah berikut asal usul hanoman yang wajib anda ketahui.

(baca juga : asal usul vampir)
Asal Usul Hanoman
Ilustrasi : Hanoman

Asal Usul Hanoman Menurut Kitab Sansekerta

Dikisahkan dari Kitab Sansekerta menyatakan bahwa pada zaman dahulu kala ada seorang wanita bernama Dewi Anjani yang berwujud kera melakukan semedi (tapabrata) di gunung, wanita tersebut memuja dewa siwa selama ratusan tahun, karena semedi sekian lama akhirnya dewa Siwa yang merupakan penguasa khayangan menampakan wajahnya kepada Dewi Anjani dan menyampaikan apa kemauan dari wanita tersebut.

Setelah terjadi perbicangan akhirnya Dewi Anjani memohon kepada dewa untuk dikarunai seorang anak dan dewa Siwa pun mengabulkan permintaan tersebut, lanjut cerita akhirnya dewa siwa Mengutus Dewa Vayu untuk memasukan sperma dewa siwa kedalam rahim Dewi Anjani, setelah itu wanita tersebut langsung hamil

Setelah sekian bulan tepatnya pada bulan purnama lahirlah seorang bayi, namun bayi tersebut mirip seekor kera berwarna putih. Ketika kelahiran hanoman ini ada banyak fenomena alam yang sangat dahyat terjadi, bumi berguncang dan halilintar menyambar bahkan batu yang digunakan untuk melahirkan hanoman pun terbelah menjadi dua bagian, menariknya ternyata bayi tersebut bisa langsung berbicara,  “Lapar… lapar… lapar….” Teriaknya, dan ia juga mengatakan  “Devi, engkaukah ibuku?

Katakanlah, dimana aku bisa memperoleh makanan ibu?” Dijawab oleh Dewi Anjani, “Carilah buah-buahan yang berwarna merah menyala di sebelah timur”. Karena kesaktiannya bayi tersebut akhirnya memakan matahari yang berwarna merah, ia mengira jika matahari adalah buah yang dimaksud oleh ibunya, ketika matahari ditelan oleh bayi tersebut keadaan bumi menjadi gelap gulita, Planet-planet kehilangan orbitnya.

Melihat kejadian itu, Dewa Indra pun menjadi marah. Dilihatnya penyebabnya adalah seekor kera. Segera ia terbang dengan Gajahnya, dan menembakkan Vajra pada mulut si bayi. Serangan itu melukai dagu sasaran. Karena kaget, akhirnya matahari yang sedang ditelan oleh Hanoman pun akhirnya termuntahkan. Matahari kembali bersinar. Kestabilan tata surya kembali terjaga.

Awalnya dewa Indra berniat membunuh bayi tersebut, namun dewa Surya melarang dewa Indra untuk membunuhnya, dewa surya yang juga merupakan penjaga kayangan akhirnya menjelaskan bahwa Hanoman adalah jelmaan dewa siwa. Mendengar penjelasan penjelasan Dewa Surya, Dewa Indra akhirnya menyadari.

Maka dia lalu menghaturkan sembah dan meminta maaf atas panahnya yang telah melukai bayi tersebut. Singkat cerita, bayi kera putih itu pun kembali pada ibunya dan menceritakan pengalamannya itu. Dan karena dagunya terluka terkena Vajra dari dewa surya, maka dikenallah bayi itu dengan nama Hanoman. Yang artinya kira-kira ‘dagu yang terluka’.

Itulah tadi sekelumit cerita mengenai asal usul hanoman si kera putih, semoga dengan cerita diatas dapat membantu dalam menambah pemahaman para pembaca sekalian, semoga bermanfaat.

Kesimpulan...

Oiya, jika dirasa tulisan diatas bermanfaat, jangan lupa bagikan dan share ke sosial media supaya di baca banyak orang dan tentu kalian akan mendapatkan pahala.

Dan berikut ini beberapa pencarian yang masuk pada artikel ini, diantaranya : asal usul hanoman kera putih, dan lain lain. Terimakasih banyak
  7 Manusia Tertinggi di Dunia, yang Diakui Sepanjang Masa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *