Hanoman
Hanoman

Kisah Kematian Hanoman Menurut Kitab Ramayana

Hanoman dalam bahasa wayang adalah putra Bhatara guru dan sekaligus menjadi anak angkat dan murid Bhatara Bayu. Hanoman sendiri adalah sosok generasi dari era Rama sampai era Jayabaya. Anjani adalah putri sulung Resi Gotama, yang terkena oleh kutukan dengan wajah bermuka kera. Atas perintah ayahnya, ia juga bermeditasi telanjang di Madirda. Pada suatu kesempatan, guru Batara dan Narada terbang melintasi angkasa. Ketika Batara Guru melihat Anjani, ia kagum sampai ia membiarkan keluar spermanya.

Raja dewa itu kemudian pergi dengan mengusapkan daun asam dan kemudian melemparkan mereka ke danau. Daunnya jatuh di pangkuan Anjani. Dia mengambilnya dan memakan itu sehingga ia hamil. Ketika waktu kelahiran tiba, Anjani didukung oleh para malaikat yang diutus oleh Batara Guru. Dia melahirkan bayi monyet berambut putih, kemudian dirinya dibawa ke kahyangan sebagai bidadari.

Hanoman
Hanoman

Kematian Hanoman Menurut Kitab Ramayana

Hanoman kala itu bosan hidup. Kemudian Narada turun dari kayangan untuk mengabulkan permintaannya untuk “mati” , asalkan ia dapat melakukan tugas akhir, yaitu mendamaikan keturunan keenam Arjuna yang terlibat dalam perang saudara. Hanomanpun berpakaian sebagai Resi Mayangkara dan berhasil menikahi Astradarma, putra Sariwahana, kepada Pramesti, putri Jayabaya.

Dan terjadi perselisihan pecah belah antara keluarga Sariwahana dan Jayabaya, meskipun keduanya keturunan Arjuna. Hanoman kemudian menghadapi musuh Jayabaya, Yaksadewa, raja Selahuma. Selama perang, Hanoman wafat, moksa dengan tubuhnya, sementara Yaksadewa kembali ke bentuk aslinya, yaitu Batara Kala, dewa kematian.

Kematian Hanoman Menurut Versi Lain

Saat itu, lama setelah Baratayuda selesai, ketika kerajaan Mamenang (kerajaan Kediri atau kerajaan Daha) yang didirikan di pulau Jawa, Anoman pergi ke kahyangan untuk menghadapi para dewa. Kepada Batara Guru, dia mengatakan bahwa dia sudah bosan hidup di dunia dan bertanya Kapan dia akan mati. Batara Guru menjawab, itu belum waktunya.

Anoman tidak senang dengan tanggapan, kemudian mengatakan bahwa ia “telah mengabdikan semua keterampilan dan kekuasaan untuk kesejahteraan dan keamanan dunia selama ratusan tahun. Sekarang Anoman menuntut untuk permintaan terakhirnya, yaitu ingin segera mati dan akan bertemu dengan para dewa.

Batara Guru menjawab: “bagus! Tapi kamu harus terlebih dahulu melaksanakan tugas lain, yaitu menjodohkan tiga putri raja Sriwahana dari Kerajaan Yawastina.

Jika Anoman melakukan tugas ini maka ia akan mati, itu menurut Batara Guru. Karena seorang ksatria besar seperti Anoman tidak layak sekarat di tempat tidur. Para dewa memutuskan bahwa Anoman harus mati sebagai seorang ksatria sejati di bidang tugas. Anoman menyetujui tugas tersebut karena ia sebenarnya ingin mati sebagai prajurit.

Pertama, ia bertemu dengan Prabu Sriwahana dan menjelaskan tujuan para dewa untuk menyatukan ketiga

putri Yawastina dengan putri Prabu Jayabaya. Prabu Sriwahana setuju. Jadi Anoman pergi ke Mamenang. Bahkan, lamaran Anoman untuk ketiga putra Yawastina diterima oleh Prabu Jayabaya.

(Baca Juga : Asal Usul Hanoman (Kera Putih) Menurut Kitab Sansekerta)

Tapi sebelum pembicaraan selesai, raja Yaksadewa tiba. Ternyata raja raksasa itu ingin juga melamar tiga puteri Prabu Jayabaya. Perkelahian tidak dapat dihindari. Seperti janji para dewa, Anoman tewas dalam pertempuran. Ketika Prabu Jayabaya menyaksikan kejadian itu, ia sangat marah dan menghadapi Prabu Yaksadewa, yang mengalahkan raja raksasa dan berubah pikiran menjadi Batara Kala.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *